TITLE

DESCRIPTION

Balia Tampilang Ulujadi

Pertunjukan ritual adat Balia Tampilangi Ulujadi Kelurahan Kabonena

timthumb.phpDESKRIPSI

Balia Tampilangi

Dalam masyarakat Adat Kaili Tula’ Bala mengandung arti dan pengertian menolak bahaya, malapetaka, dan bencana yang akan terjadi, sedang terjadi dan telah terjadi baik di darat maupun di laut. Konteks dari ritus sakral dan upacara adat Tula’ Bala ini memiliki beberapa tingkatan sejalan dengan ruang dan kebutuhannya.

Dalam konteks ritus tersebut adalah, vati yang merupakan asal usul to manuru dari kalangan bangsawan yang biasanya melaksanakan ritus dan upacara adat tersebut. adalah peran Sando (dukun) dan Tetua Adat yang memimpin upacara serta “komunikasi metafisis” yang dilakukan melalui mantra atau ‘Gane’ dalam bahasa Kaili.

Prosesi Upacara Adat Tampilangi.

 Proses pelaksanaan upacara adat ini diawali dengan Nolibu yang dilakukan para Tetua Adat yang bertempat di Bantaya untuk menentukan hari pelaksanaan upacara adat tersebut.

Upacara adat ini biasanya dilaksanakan selama 3 (tiga) hari berturut-turut, oleh masyarakat Adat Kel. Tipo Kecamatan Ulujadi Kota Palu

Prosesi upacara selanjutnya dimulai dengan mempersiapkan bahan dan perangkat adat yang akan digunakan dalam upacara adat ini, dilanjutkan dengan prosesi dimana para Tetua Adat yang dipimpin oleh seorang Sando melantunkan Gane (mantra) dan do’a-do’a keselamatan untuk mencegah terjadi bencana.

Kemudian menyiapkan Paradadia, Vala Suji, yaitu sebentuk perahu yang biasanya dibuat dari bahan pelepah pohon Sagu yang dihiasi dan dimuati dengan berbagai sesaji serta dilengkapi dengan sebuah layar berbentuk persegi dari kain berwarna kuning. Sesajian yang dimuati dalam Vala Suji ini antara lain beras ketan, telur, pisang, lauk-pauk dan beberapa penganan tradisi lainnya. Dilanjutkan,

Pelarungan Vala Suji di laut atau sungai untuk memohon do’a, harapan dan keselamatan kepada topepajadi (sang Pencipta) agar dijauhkan dari bencana yang di simbolkan melalui Vala Suji ini.

Vala Suji kemudian dilarungkan ke laut dengan dibawa oleh perahu untuk dilepaskan pada tempat tertentu yang dipercayai menjadi tempat dimana Karampua atau dewa yang menguasai alam arwah dan dunia ini berada dan diharapkan menerima permohonan melaui upacara adat ini

 

Sekian, Tabe

Pimp. Masy Adat          : Bpk. Majnun

Koord. Masy Adat        :  Herman Wahid S, S.Sos

 

TANGGAL

25 – 26 September 2016


JAM

19.00 – 17.00 WITA


BENTUK RITUAL

JUMLAH PELAKU

25 Orang


PROSESI

1 Malam 1 Hari


LOKASI

Taman Dato Karama


Orang Penambuh Gimba

Jenis Ritual Adat Kaili

Orang Peniup Lalove dan Sulo(Obor)

Panggung Seni Tradisi & Budaya Nusantara

Hotel

Daftar Hotel Sekitar Kota Palu

Restoran

Daftar Restoran Kota Palu

Toko Cenderamata

Daftar Toko Cendera Mata khas Kota Palu

Biro Perjalanan

Daftar Biro Perjalanan Kota Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hak Cipta © 2016, Tim Creative Festival Pesona Palu Nomoni - Dinas Pariwisata Kota Palu